Panduan Kuliah Perdana

MARILAH BERPIKIR DAN JADILAH INTELEKTUAL PROGRESIF

Pada hakekatnya pendidikan merupakan bagian dari kebutuhan umat manusia. Sejatinya pendidikan merupakan wadah untuk kita berpikir dan ber-dealiktika untuk memenuhi kebutuhan hidupnya atau memanusiakan manusia. Tapi apakah benar pendidikan kita hari ini benar­­-benar sesuai dengan kebutuhan umat manusia?? Mari kita berpikir sejenak, benarkah  seperti itu? Indikator keberpihakan pendidikan dalam memanusiakan manusia atau hanya kepentingan kelompok penguasa dapat dinilai melalui realita pendidikan kita. Kepentingan kelompok tersebut menghasilkan output pendidikan yang hanya berperan sebagai pelengkap jajaran pekerja ahli, terdidik, murah yang semakin membengkak jumlahnya, pelengkap koleksi pengangguran dunia bermasyarakat.

Seperti apakah realita pendidikan kita?

  1. 1.    Komersialisasi atas hak dasar pendidikan

Setiap insan, individu, mahkluk berakal yang sering disebut manusia memiliki hak untuk berpikir. Pendidikan merupakan landasan manusia untuk mendapatkan pola berpikir objektif dan ilmiah. Perkembangan peradaban manusia dapat bergulir dengan cepat dan tepat melalui instrumen pendidikan yang tepat, sehingga akses pendidikan harus didapatkan oleh setiap manusia tanpa melihat kekayaan, klas sosial, dsb.

Pada kenyataannya akses hak atas pendidikan telah dibatasi, yang memalukan pembatasan tersebut berdasarkan seberapa kaya orang tua calon peserta didik. Apakah hal tersebut pernah terpikir oleh kita atau kita sadari?

Tak jauh, bahkan di tempat kita mengakses pendidikan saat ini, Universitas maupun Sekolah Tinggi secara nyata menjelaskan pertanyaan di atas. Dengan sepihak sekolah tinggi ini mengharuskan pembayaran tagihan dengan konsekuensi Ujian Tengah Semester tidak dapat dilaksanakan bagi mahasiswa yang telat membayar. Artinya, penilaian awal dilakukan dengan melihat kemampuan peserta didik untuk membayar SPP.

Hal tersebut tidak terlepas dari kenyataan bahwa pendidikan sedah menjadi ajang bisnis.

  1. 2.    Orientasi fasilitas pendidikan yang minim

Pendidikan yang beralih fungsi menjadi ladang bisnis menghantarkan akibat yang sangat memberatkan bagi peserta didik sebagai orang yang berhak. Ladang bisnis dengan orientasi profit mengharuskan minimalisasi biaya. Alhasil, fasilitas pendidikan kita sangat minimalis. Jumlah komputer yang bukan lagi barang tersier di kampus ini saja hanya beberapa, pengunaan ruang kelas yang dibatasi, kipas reot ala ‘70an. Dengan besaran uang pembangunan yang diberikan setiap tahun dan berjuta setiap mahasiswanya dan beratus jumlah mahasiswanya sama sekali tidak menunjukan peningkatan fasilitas yang signifikan. Betulkan itu uang pembangunan? Lalu apa yang dibangun?

  1. 3.    Pemaksaan penggunaan akses pendidikan yang menciptakan pengkerdilan kreatifitas peserta didik.

Pemberlakuan presensi 75% seakan-akan menjadi langkah itikad baik agar peserta didik mendapatkan pemahaman yang komprehensif di kelas. Namun, berbanding terbalik, kebijakan ini justru menjadi tekanan bagi peserta didik yang berangkat kuliah hanya untuk formalitas dan tak mementingkan ilmu.

Di samping hal itu presensi 75% juga memberikan batasan bagi kaum terpelajar kritis untuk mendapatkan ilmu selain yang diberikan di dalam kelas. Sedangkan ilmu tidak hanya didapatkan di dalam kelas. Pengalaman berorganisasi juga tak kalah pentingnya dengan perkuliahan, keduanya saling menopang. Sedangkan di dalam organisasilah mahasiswa dapat mempraktekkan dan menguji teori yang didapatkan. Dengan adanya presensi 75% mengakibatkan ketimpangan proporsi teori dan praktek peserta didik.

Ketika Realita hari ini yang membenarkan bobroknya sistem pendidikan yang jauh dari hakekatnya. Apa yang akan dilakukan kaum intelektualnya? Jika peran pendidikan sudah diluar hakekatnya tentu dampak yang sangat besar  terhadap aspek kehidupan kita ataupun umat manusia umumnya. What’s to be done?

Bangkit, berorganisasi, dan berjuang. Memulai dari persoalan-persoalan pendidikan yang ada disekitar kita, bukan hanya di sekitar kita tetapi kita juga yang sedang terkena dampaknya saat ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s