Pendidikan di Kota (Istimewa) Pendidikan

Raja Amar*

Hari ini pendidikan sudah menjadi kodrat yang merupakan kewajiban manusia untuk ditunaikan. Pendidikan telah disebut-sebut untuk memanusiakan manusia. Jika dikaji lebih jauh pendidikan memiliki arti dasar yang fundamental, pendidikan yang tidak hanya diartikan sebagai proses belajar mengajar. Pendidikan adalah proses dealiktika manusia untuk mengembangkan akal pikirnya untuk menyelesaikan problem-problem sosial dalam masyarakat dan menemukan hipotesa-hipotesa baru yang kontekstual dengan perkembangan zaman. Pendidikan menjadi tonggak penyokong terciptanya generasi muda suatu bangsa dan negara. Sehingga mutlak hukumnya pendidikan dapat diakses oleh setiap benda bernyawa.

Perundang-undangan tingkat tinggi seperti batang tubuh dan pasal 31 UUD’45, mengatur dengan jelas tanggung jawab negara dalam penyelenggaraan pendidikan tanpa diskriminasi. Tidak terkecuali diskriminasi secara ekonomi.

            Hal di atas menjadi landasan teoritis dalam sektor pendidikan yang akan menjadi dasar analisa situasi pendidikan yang berlangsung saat ini. Pembahasan akan banyak melihat potret pendidikan di DIY, karena disamping sebutannya sebagai kota pelajar juga merupakan daerah istimewa. Perlu dicermati bahwa DIY (Daerah Istimewa Yogyakarta) bukanlah daerah terpencil di Indonesia. Seharusnya dapat dipastikan tidak luput dari panca indera manusia normal yang duduk di pemerintahan.

Meskipun demikian, daerah ini tidak terlepas dari bobroknya sistem pendidikan di Indonesia.  Program-program pendidikan gratis di SD, SMP, hingga SMA belum terealisasi dengan baik. Masih banyak terjadi pungutan-pungutan dari pihak sekolah kepada peserta didik. Belum lagi kebijakan sekolah gratis yang bergema kemana-mana tersebut tidak diimbangi dengan pengadaan fasilitas yang layak. Perlu diingat bahwa pendidikan tanggung jawab negara, barang tentu fasilitas yang dibutuhkan disediakan oleh negara. Tidak berarti “gratis” sehingga fasilitas yang disediakan sangat minim. Salah satu contohnya kondisi sekolah di kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta, ruang kelasnya saja sangat tidak layak. Beberapa waktu lalu di kabupaten Bantul, Yogyakarta, terjadi sengketa lahan tempat didirikannya SMA N 17. Akibat sengketa tersebut peserta didik yang sedang mempersiapkan Ujian Nasional harus belajar di luar sekolah. Jelas ini mengganggu ketenangan dan proses pendidikan siswa.

Pendidikan jenjang Strata 1 (Universitas)

Akses pendidikan di perguruan tinggi tidak kalah penting, tingkat pendidikan ini juga bagian dari proses awal pembangunan generasi selanjutnya. Untuk memajukan dan mengembangkan kehidupan berbangsa dan pengembangan suatu negara, pendidikan tingkat universitas tidak bisa dikesampingkan. Pembangunan kerangka berpikir yang lebih dinamis, inovatif, dan spesifik diberikan pada tingkat pendidikan ini. Disamping itu akses pendidikan hingga tingkatan tertinggi masih merupakan hak dari manusia untuk meningkatkan taraf hidupnya.

“Kerjalah ilmu hingga negeri Cina, Gapailah ilmu setinggi-tinggi”

 

Namun, fakta-fakta ironis jenjang pendidikan strata 1 dan selanjutnya justru sangatlah kental. Diskriminasi dan komersialisasi pendidikan tergambar jelas didepan mata. Biaya yang membumbung tinggi adalah bentuk diskriminasi peserta didik secara ekonomi. Orientasi Universitas kini tidak lagi mencerdaskan kehidupan bangsa. Universitas yang merupakan institusi pendidikan justru memiliki prosedur awal penandatanganan perjanjian biaya yang harus dibayar. Seakan-akan terjadi jual beli pendidikan yang tidak lain adalah wujud kongkrit komersialisasi pendidikan.

Pendidikan menjadi barang komoditi yang dengan daya tawar yang tinggi. Berbagai universitas sudah mulai berlomba-lomba meningkatkan kualitasnya dengan tujuan menarik ceceran modal yang akan segera disetorkan oleh calon-calon mahasiswa. Tentunya orientasi ini mengakibatkan melangitnya biaya pendidikan. Faktanya uang gedung untuk masuk universitas saja, saat ini berada pada kisaran 2 juta – 100 juta bahkan bidang-bidang tertentu lebih dari 100 juta. Biaya tersebut belum termasuk SPP (yang rata-rata >1 juta tiap semester), SKS, Kemahasiswaan, KKN, Laboraturium, dll.

Tingginya biaya pendidikan menjadi sistem seleksi utama masyarakat kalangan menengah kebawah untuk dapat melanjutkan pendidikan.  Sebagai parameter mahalnya biaya pendidikan maka dapat dilakukan matching dengan pendapatan per kapita dan UMP(Upah Minimum Provinsi). Nominal tersebut sangat tidak sesuai dengan kondisi masyarakat Yogyakarta yang memiliki UMP dibawah Rp 900.000,00. Ditambah lagi upah pekerja DIY secara praktek masih banyak yang berada di bawah penetapan UMP. Terbukti dari jumlah angka kemiskinan di DIY yang masih tinggi, padahal kategori kemiskinan ditetapkan dengan Garis Kemiskinan yang sangat rendah. Contohnya pada september 2011 terdapat 564.230 jiwa yang berada di bawah garis kemiskinan dengan pendapatan Rp257.909 per kapita per bulan diperkotaan, pendapatan penduduk di perdesaan dipastikan lebih rendah dari Rp257.909 per kapita per bulan. Jumlah angka kemiskinan tersebut akan meningkat tajam apabila dihitung dengan standar kemiskinan International sebesar $2 per hari atau $60 per bulan.

Gambaran di atas menegaskan pendidikan yang tidak terjangkau oleh mayoritas penduduk di DIY. Ketidaksesuaian biaya dan pendapatan di tingkatan rakyat telah menjatuhkan rakyat pada lingkaran kemiskinan. Tanpa legitimasi pendidikan formal yang mahal itu, maka terjadi penurunan daya tawar manusia terhadap lapangan pekerjaan. Efek domino tersebut akan melanjutkan kenaikan angka kemiskinan. Berlandaskan argumen di atas memunculkan pertanyaan besar, Bagaimana peran pemerintah daerah “istimewa” Yogyakarta untuk terselenggaranya pendidikan bagi seluruh rakyat?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s